Refleksi Kepemimpinan: Dari Spirit Penugasan Menuju Sistem Pengelolaan Manusia

Posted on

“Zaman telah berubah; ketaatan kini harus lebih berani menata diri. Karena dakwah tidak cukup digerakkan oleh semangat, tapi juga oleh sistem yang ilmiah yang lebih mampu menejelaskan secara operasional.”

Di tengah arus zaman yang berubah, satu hal yang tidak pernah pudar adalah semangat penagasan -kesediaan setiap kader untuk taat, berkorban, dan berpindah demi tugas dakwah.

Semangat itu lahir dari keyakinan mendalam bahwa ketaatan adalah landasan kemajuan. “Sami’na wa Atho’na” bukan sekedar semboyan, tetapi identitas eksistensial yang menegaskan: taat adalah bentuk kesadaran tertinggi iman.

Demikian setidaknya dalam lima puluh tahun perjalanan Hidayatullah telah menorehkan jejak semangat yang unik dalam peta gerakan Islam di Indonesia.

Namun kini, ketika Hidayatullah memasuki babak regenerasi pada Munas ke-6 sebagai momentum suksesi nasional, -selain menjawab tantangan rejuvenasi- muncul kebutuhan untuk membaca ulang hakikat penugasan. Semangat yang selama ini menyalakan langkah dakwah perlu menemukan bentuk operasional yang lebih kokoh.

Tentu saja dalam momen ini tidak harus mengganti nilai, melainkan menemukan cara baru untuk menjaga nilai tetap hidup dan bekerja lebih efektif. Serupa dengan yang ditegaskan Fazlur Rahman, “Pembaruan intelektual bukanlah pengkhianatan terhadap tradisi, namun kelanjutannya dalam konteks sejarah baru.”

Pembaruan konsepsi penagasan misalnya melalui pendekatan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) bisa menjadi lanjutan dari tradisi ideologi Hidayatullah dalam konteks zaman yang baru -sebuah bentuk ijtihad manajerial untuk memastikan ruh dakwah tetap relevan, terukur, dan berkelanjutan.

Disclaimer: Spirit Tetap, Sistem Diperkuat

Penting ditegaskan sejak awal bahwa yang dimaksud dengan sistem pengelolaan manusia dalam tulisan ini bukanlah pada aspek spiritual kader. Dalam hal itu, Hidayatullah telah memiliki sistem nilai dan amaliyah yang mapan -mulai dari pemahaman jati diri kader, Gerakan Nawafil Hidayatullah, Piagam Gunung Tembak, hingga halaqah pekanan sebagai mekanisme konsolidasi ruhiyah.

Apa yang dibahas adalah pengelolaan manusia dalam tataran operasional dan manajerial: bagaimana pengugasan, kepemimpinan, dan tata kerja dikelola secara ilmiah agar nilai-nilai ruhiyah itu dapat diimplementasikan dengan efektif, adil, dan berkelanjutan.

Sebab, Islam tidak hanya memerintahkan untuk berdoa, tetapi juga untuk berikhtiar dengan cara terbaik. Allah berfirman: “Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (ahsanul ‘amala)” (QS. Al-Mulk: 2).

Ayat tersebut yang bagi kader Hidayatullah menjadi bacaan rutin dzikir harian ini jika mentadaburinya bukan hanya perintah untuk berbuat, tetapi untuk berbuat dengan cara terbaik. Dan cara terbaik dalam konteks organisasi modern adalah membuka diri dengan menata sistem yang ilmiah, akuntabel, dan berbasis pengetahuan.

Spirit Penugasan dan Tantangan Baru

Dalam sejarah Hidayatullah, penugasan telah menjadi ruh gerakan. Ia bukan sekadar perintah organisatoris, melainkan manifestasi ketaatan yang menegaskan orientasi tauhid: bergerak bukan karena panggilan duniawi, tetapi karena Allah.

Spirit ini membentuk kader yang siap ditempatkan di mana pun, dalam kondisi apa pun. Mereka belajar ikhlas, menanggung beban dakwah,dan membangun peradaban dari pinggiran.

Namun, perubahan zaman menghadirkan tantangan baru. Kompleksitas organisasi dan tuntutan profesionalisme membuat semangat pengugasan tidak lagi cukup dijalankan secara heroik semata.

Kini, kader menghadapi persoalan yang lebih teknis: kompetensi bidang, kemampuan manajerial, hingga tekanan psikologis akibat ketidaksesuaian antara tugas dan kemampuan.Tidak jarang kader ditugaskan pada yang tidak sesuai dengan kapasitasnya -guru menjadi bendahara, ahli posisi administrasi menjadi kepala sekolah, atau dai menjadi manajer lembaga.

Secara spiritual, mereka taat. Secara organisatoris, mereka berjuang. Tapi di sisi lain, tak dimungkiri dalam istilah MSDM kondisi mistmatch ini menimbulkan stres kerja dan ketidakefektifan kerja. Dalam kerangka ruhiyah, kelemahan ini sering dimaknai sebagai ujian yang mendidik kebergantungan kepada Allah.

Benar demikian, sebab kesadaran diri yang lemah itulah yang memunculkan doa dan harapan yang kuat serta keikhlasan. Namun dalam kerangka sunatullah, Allah juga menghendaki manusia untuk berikhtiar secara profesional.

Sebagaimana ditegaskan Al-Ghazali, “Tawakal bukanlah meninggalkan sebab, tetapi bersandar kepada Allah setelah sebab perjalanan-sebab yang benar.” Jika penugasan adalah bagian dari dakwah, maka ia juga bagian dari ikhtiar profesional yang wajib dikelola dengan ilmu.

Penugasan Berbasis MSDM: Dari Ruh ke Sistem Operasional

Disini pentingnya suatu upaya yang maksimal melalui pendekatan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) . Pendekatan ini tidak bertujuan menggantikan nilai-nilai spiritual Hidayatullah, tetapi menjadikan nilai itu lebih operasional dan terukur.

Dalam konteks dakwah, MSDM adalah upaya menata “kerja manusia” agar tetap selaras dengan “kerja Ilahi.” Bahwa setiap kader bukan hanya pelaksana amanah, tetapi juga menyimpan potensi sumber daya yang bisa dikelola dengan maksimal dan dengan cara yang adil tentunya. Henry Mintzberg menitikan bahwa pekerjaan kepemimpinan yang sebenarnya adalah pengelolaan manusia (red-kaderisasi).

Kepemimpinan sejati, bukan soal membuat keputusan besar, tetapi bagaimana mengelola manusia agar tumbuh dengan meningkat kapasitasnya dan menemukan makna dalam pekerjaannya. Maka setidaknya ada tiga hal yang menjadi perhatian dalam penugasan kader berbasis MSDM yang menghendaki adanya sistem yang baik:

  • Pemetaan Kompetensi (Talent Mapping): agar kader ditugaskan sesuai kapasitas, bukan hanya tersedia.
  • Pengembangan Kapasitas (Capacity Building): agar kader yang belum sesuai bidangnya mendapat pelatihan dan mentoring yang memadai.
  • Evaluasi dan Apresiasi Kinerja: agar setiap kader tahu sejauh mana kontribusinya dan bagaimana ia dapat tumbuh.

Misalnya, seorang kader ditugaskan mengelola lembaga pendidikan tanpa latar belakang manajerial. Ia bekerja keras, namun sering terjebak pada tumpukan administrasi, konflik interpersonal, dan beban target. Kemudiaan dalam penangan masalahnya pun dengan cara lama, seperti biasanya dengan nasihat spiritual, bersabar, berdoa, dan memperbanyak nawafil.

Itu penting, tapi tidak cukup. Dalam pendekatan MSDM, masalah ini dipandang sebagai ketidaksesuaian antara peran dan kompetensi yang melahirkan job stress(konflik diri) yang jika tidak tertangani bisa menggagu kerja tim(konflik internal), sehingga penangannya lebih operasional seperti intervensi pelatihan, pendampingan, atau rotasi jabatan yang proporsional.

Pendekatan seperti ini bukan sekadar strategi manajemen, tetapi bentuk ketaatan yang berilmu. Sebab Islam sendirinya memerintahkan kesempurnaan amal, sebagaimana firman Allah dalam QS. As-Saff: 4: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bergerak di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seolah-olah mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.”

Ayat tersebut menekankan pentingnya perhatian pada sistem dan keteraturan dalam perjuangan. Barisan yang teratur dalam konteks dakwah modern bisa dibaca sebagai manajemen yang tertata. Peter Drucker berpesan, “Manajemen adalah aktivitas manusia dan moral.” Dalam kerangka Hidayatullah, pengelolaan kader secara adil dan profesional bukan sekedar keharusan teknis, tapi juga amanah moral dan spiritual.

Kepemimpinan Transformatif dan Masa Depan Organisasi

Munas ke-6 Hidayatullah (20-23 Oktober 2025) adalah momentum emas untuk melakukan transisi kepemimpinan dengan semangat rejuvenasi sekaligus transformasi paradigma. Bahwa Kepemimpinan masa depan tidak lagi cukup hanya berjiwa ideologis, tetapi juga harus berpengetahuan manajerial.

Karena tantangan dakwah bukan hanya menjaga ruh, tetapi juga membangun sistem. Pemimpin yang berwawasan MSDM memahami bahwa setiap manusia adalah aset, bukan alat. Ia menempatkan kader bukan sekadar berdasarkan kepercayaan, tetapi kecakapan.

Ia mendamaikan konflik bukan hanya dengan tausiyah, tetapi dengan komunikasi dan empati. Ia tidak hanya memerintah, tetapi memfasilitasi tumbuhnya kader menjadi matang -secara spiritual dan profesional.

Kepemimpinan transformatif ini adalah bentuk lanjutan dari Sami’na wa Atho’na. Jika dulu ketaatan dimaknai sebagai kesiapan berkorban, kini ia juga berarti kesiapan menata. Sehingga spirit itu menemukan rumusan barunya, “Kami taat, dan karena ketaatan itu kami menata.”

Menata di sini membangun sistem, mengelola dengan kasih, dan organisasi tumbuh dengan adil. Malik Bennabi pernah menulis, “Manusia berideologi adalah manusia yang hidup dalam kesadaran makna.” Kepemimpinan berbasis MSDM adalah wujud dari kesadaran makna itu -bahwa dakwah bukan hanya perjuangan spiritual, tapi juga pemeliharaan peradaban.

Maka, arah lima puluh tahun ke depan haruslah jelas: dari pengugasan ideologis (profetik) menuju pengugasan profesionalis (saintifik). Spirit tetap sama, namun sistemnya diperbarui. Ketaatan tetap menjadi energi, namun mengaturnya dengan ilmu agar tidak terkuras oleh ketidaktertiban hingga berujung konflik yang tidak perlu.

Karena pada akhirnya, seperti diingatkan Ibnu Khaldun, bahwa peradaban tidak tegak dengan kekuatan spiritual semata, tetapi dengan perpaduan antara ilmu, keadilan, dan tatanan sosial yang baik. Inilah tantangan kepemimpinan Hidayatullah hari ini, memadukan ketaatan dan tata kelola, spiritualitas dan profesionalitas, ruh dan sistem.

Kita telah membuktikan bahwa ketaatan bisa menggerakkan sejarah. Kini, kita harus membuktikan bahwa dengan pendekatan ilmu secara saitifik bisa menjaga arah sejarah itu tetap lurus dan tumbuh. Penugasan adalah amanah, tapi ia juga adalah sistem yang harus dijaga. Ketaatannya adalah ruh, tapi ia juga harus dihidupi dalam struktur yang adil.

Maka, membangun sistem pengelolaan manusia bukan sekadar agenda administratif, tetapi perintah teologis -wujud dari tauhid sosial yang menyatukan langit dan bumi, nilai dan tindakan.

Dan pada akhirnya, Kepemimpinan sejati bukan hanya tentang siapa yang ditugaskan, tetapi bagaimana pengugasan dengan menjalankan ilmu yang menghadirkan sistem operasional yang solid, dan tetap dalam panduan nilai-nilai Ilahi.

Pengugasan menemukan makna barunya, bukan hanya sekdar yang menjalankan jabatan berani ditugaskan -apalagi jangan sampai pasrah tiada pilihan, tetapi berani menghadirkan kerja secara sistemik manajerial dengan kesungguhan dalam membangun peradaban yang dicita-citakan. Wa’allahu’alam

Rusman Abdillah —Aktivis YUQ Hidayatullah Karawang

Visited 5 times, 1 visit(s) today