Deep Learning, Digitalisasi, dan Kekeliruan Arah Pembelajaran

Posted on

Beberapa kali diskusi dengan sahabat pendidik dalam ikhtiar memahami tentang konsep deep leraning memang tidak sederhana untuk menjadi bagian penting bagi pendidik atau pun peserta didik menghadirkanya dalam pembelajaran.

Miskonsepsi hingga berimbas pada arah pembelajaran yang keliru, semakin nampak kepermukaan dan menantang untuk meretasnya. Sedari awal Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti pun mengingatkan potensi miskonsepsi ini dimana beliau turun langsung menjelaskan dalam sebuah Seminar Nasional dan Sosialisasi Program Deep learning yang disiarkan melalui YouTube tvmU Channel pada Senin (17/2/025). Bahwa Deep leraning bukanlah kurikulum, begitu satu penekan tegas yang disampaikan beliau.

Salah satu dampak paling nyata dari miskonsepsi deep learning adalah tak memungkiri adanya kebingungan guru di ruang kelas. Terlebih ketika istilah ini hadir bersamaan dengan program digitalisasi sekolah misal hadirnya layar interaktif, laptop, platform pembelajaran berbasis aplikasi -respon atas perkembangan zaman- maka semakin lebar terjadi pergeseran makna yang bisa saja secara subtil namun sepertinya cukup serius, seolah deep learning dipahami sebagai konsekuensi otomatis dari kehadiran teknologi.

Guru akhirnya terjebak pada sebuah ironi, cara lama mengajar dalam situasi baru yang serba digital. Ceramah tetap satu arah mendominasi, siswa tetap pasif, evaluasi tetap berorientasi hasil akhir -yang berubah hanyalah medianya. Papan tulis berganti layar, buku berganti file, tetapi paradigma belajar tidak bergerak. Di titik ini, deep learning tidak pernah benar-benar lahir.

Padahal, deep learning tidak menjanjikan bahwa teknologi akan membuat pembelajaran menjadi bermakna. Tanpa perubahan cara pandang, digitalisasi justru melahirkan surface learning versi mutakhir: menyajikan kecepatan, visual memukau, menarik, tetapi dangkal dalam pencapainnya.

Islam dan Akar Pembelajaran Mendalam

Mencoba menilik pada ajaran Islam, Jika wacana deep learning dianggap sebagai gagasan baru, Islam justru menunjukkan sebaliknya. Lima ayat pertama yang diturunkan (QS. Al-‘Alaq 1–5) bukan hanya perintah membaca, melainkan peta jalan pembelajaran manusia.

Baca :  Deep Learning dan Kedalaman Ruhani dalam Pendidikan Islam

Perintah iqra’ tidak berdiri sendiri, tetapi disertai kesadaran nilai (bismi rabbik), penggunaan alat (qalam), dan proses pengembangan pengetahuan berkelanjutan. Rasulullah ﷺ tidak hanya menyampaikan wahyu, tetapi mencontohkan proses memahami, menginternalisasi, dan mengamalkan. Jika menggunakan istilah pendidikan modern, seluruh spektrum taksonomi Bloom -bahkan melampauinya- telah dipraktikkan dalam proses kenabian.

Namun Islam tidak berhenti pada deep learning dalam arti sentuhan fokus pada kognitif. Ia mengarahkan pembelajaran pada transformasi diri: dari tahu menjadi sadar, dari paham menjadi beradab, dari pintar menjadi bijaksana.

Sarana Pembelajaran: Dari Dalam Diri ke Luar Diri

Kesalahan mendasar dalam praktik pendidikan kontemporer adalah mendahulukan sarana eksternal sebelum benar memahami sarana internal. Sekolah berlomba menghadirkan perangkat mutakhir, sementara guru dan siswa belum diajak mengenali alat belajar utama yang telah Allah anugerahkan sebagaimana dalam Al-Qur’an menegaskan:

“Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati. Sedikit sekali kamu bersyukur.”
(QS. Al-Mulk: 23)

Ayat ini adalah kerangka pedagogis yang sangat dalam. Pendengaran, penglihatan, dan hati bukan sekadar organ biologis, melainkan perangkat belajar primer. Tanpa kesadaran akan cara mendidik-menggunakannya dengan benar dan mengaktifkannya-, teknologi apa pun di luar diri akan kehilangan daya transformasinya. Dengan Kesadaran tersebut menjadikan pembelajaran kaya akan media, bagaiamana tidak semua yang terindera akan nampak, baik sebagai fenomena alam atau sosial menjadi sarana yang merangsang pembelajaran dengan kedalamanya.

Prinsip kesadaran inilah yang menemukan bentuk paling nyata dalam praktik pendidikan Rasulullah ﷺ. Jika ukuran keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh luas ruang kelas dan kelengkapan sarana, maka sejarah seharusnya melupakan beliau sebagai pendidik. Namun justru dari ruang-ruang yang sempit, sederhana, bahkan gelap -rumah kecil, serambi masjid, perjalanan panjang, dan gua sunyi- membuktikan lahirnya pembelajaran yang hasilnya mengagumkan melampaui zaman.

Baca :  Menyambung Saluran Rasa, Bukan Melarangnya

Rasulullah ﷺ mengajar tanpa papan tulis, tanpa proyektor, tanpa perangkat digital. Namun beliau mengaktifkan perangkat pembelajaran paling mendasar dalam diri manusia. Para sahabat belajar dengan pendengaran yang penuh perhatian, penglihatan yang sarat makna, dan hati yang terlibat sepenuhnya. Setiap kata perbuatan beliau menjadikan sahabat mudah dan asyik menyerap ilmu darinya.

Ketika beliau bertanya bukan karena tidak tahu, tetapi untuk menggerak dan memantik akal para sahabat. Beliau mengulang bukan karena lemahnya ingatan, tetapi untuk menanamkan kedalaman pembelajaran. Beliau bercerita, memberi perumpamaan, dan memperagakan nilai melalui keteladanan hidup. Inilah pembelajaran yang hari ini dikenal sebagai experiential, reflective, dan meaningful learning -betapa telah dipraktikkan jauh sebelum istilah itu lahir.

Dari Pembelajaran Mendalam Menuju Peradaban Ilmu

Hasil dari proses tersebut tidak berhenti pada individu yang paham, tetapi melahirkan generasi yang mampu meneruskan cahaya ilmu. Para sahabat tumbuh menjadi pendidik, pemimpin, dan pemikir. Tradisi pembelajaran ini kemudian melahirkan ilmuwan dan cendekiawan yang karyanya dipelajari lintas peradaban -dari Timur hingga Barat.

Pemikir seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, dan Ibnu Khaldun tidak dibesarkan oleh sistem pendidikan yang sarat teknologi, melainkan oleh pembelajaran yang menghidupkan akal dan hati. Karena itulah ilmunya tidak usang. Ia melintasi ruang dan waktu, tetap relevan, dan terus menerangi.

Contoh Praksis dan Refleksi untuk Guru Hari Ini

Teknologi pembelajaran penting lebih dari itu deep learning hadir agar tidak terjadi di banyak ruang kelas modern, layar digital telah menyala terang, tetapi cahaya pembelajaran justru redup. Materi ditampilkan, target dikejar, waktu dihabiskan -tanpa ruang untuk berpikir, merasa, dan merenung.

Sebaliknya, deep learning mencoba mulai hadir mengantarkan ketika guru:

  • mengawali pelajaran dengan pertanyaan bermakna,
  • mengaitkan ilmu dengan kehidupan nyata siswa,
  • memberi ruang dialog dan refleksi,
  • menutup pembelajaran dengan kesadaran dan aksi, bukan sekadar rangkuman.
Baca :  Refleksi Kepemimpinan: Dari Spirit Penugasan Menuju Sistem Pengelolaan Manusia

Teknologi, dalam konteks ini, hanyalah alat bantu. Pusat pembelajaran tetap manusia. Perdebatan tentang deep learning sejatinya bukan soal kebijakan atau perangkat, melainkan cara kita memandang belajar itu sendiri. Rasulullah ﷺ telah menunjukkan bahwa keterbatasan ruang dan sarana tidak menghalangi kedalaman belajar. Yang menentukan adalah hidupnya pendengaran, tajamnya penglihatan, dan hadirnya hati.

Deep learning menemukan makna sejatinya -bukan di layar yang terang, tetapi dalam kesadaran yang menyala. Miskonsepsi yang dijumpai tentangnya kita jadikan sebagai pembelajaran untuk lebih benar dan baik lagi mengenali. Nampaknya memang kita -terlebih sebagai pendidik- harus teruskan belajar, berdiskusi, mengujinya dengan praktik dari konsep-konsep yang ada -tidak hanya deep leraning– tetapi pembelajaran yang mengantarkan tujuan pada hakikatnya, kesadaran. wallahu’alam

Visited 1 times, 1 visit(s) today
Avatar photo
Semua memulai dari diri, maka kenali, perhatikan dan awasi namun jangan lupa terimalah dan sayangi ia apa adanya. Seorang Ambivert yang berangkat dari Introvert, Pemerhati Pendidikan dan Minat pada HR Management

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *