Ramadhan adalah bulan penuh berkah, ibadah, dan tentu saja—kuliner dadakan. Dari ujung gang hingga pinggir jalan protokol, para pedagang musiman berbaris rapi, menggoda kita dengan aroma gorengan yang renyah dan kolak yang legit. Namun, izinkan saya mengajukan argumen sederhana tetapi penuh makna: tiga biji kurma lebih baik dari kolak dan segala isinya.
Mari kita mulai dengan fakta yang tak terbantahkan: Rasulullah SAW sendiri berbuka puasa dengan kurma. Kalau pilihan manusia paling sempurna saja jatuh pada buah kecil ini, apakah kita masih mau mendebatnya dengan semangkuk kolak yang penuh gula aren dan santan? Kurma itu sederhana, praktis, dan tanpa risiko meneteskan kuah ke baju koko kesayangan.
Kolak, di sisi lain, datang dengan berbagai tantangan. Pertama, komposisinya adalah jebakan bagi yang niatnya ingin diet saat Ramadhan. Gula aren, santan, pisang, ubi, dan kadang-kadang pacar cina (bukan calon mertua, tetapi bola-bola kenyal berwarna merah muda). Kombinasi ini bukan sekadar pemanis lidah, tetapi juga pemicu kantuk instan setelah tarawih.
Kurma lebih unggul dalam hal gizi dan efisiensi. Tiga biji kurma memberikan energi yang cukup untuk mengembalikan kadar gula darah yang turun setelah seharian berpuasa. Bandingkan dengan kolak yang, setelah dua sendok, langsung membawa kita ke tahap “kenyang, tapi masih ingin gorengan.”
Mari kita bicara tentang logistik. Kurma bisa dibawa ke mana-mana tanpa perlu takut tumpah atau basi. Coba masukkan semangkuk kolak ke dalam saku gamis, dan lihat apa yang terjadi. Bukan hanya lengket, tetapi juga berpotensi menciptakan tren baru dalam motif batik.
Dan akhirnya, sisi spiritual. Makan kurma bukan hanya mengikuti sunnah, tetapi juga cara bijak dalam memahami esensi berbuka puasa: sederhana dan penuh berkah. Kolak, dengan segala kompleksitasnya, sering kali justru mengarahkan kita ke napas terengah-engah karena kekenyangan.
Jadi, pada akhirnya, tiga biji kurma adalah pemenang sejati. Lebih sehat, lebih praktis, dan lebih sesuai dengan spirit Ramadhan. Kolak? Ah, cukup jadi nostalgia masa kecil, sesekali boleh, tapi jangan sampai ia menyingkirkan kesederhanaan yang seharusnya kita pelihara di bulan suci ini.