Menyatukan Hati, Bukan Sekadar Menata Struktur: Pesan Kepemimpinan KH. Naspi Arsyad, Lc.

Posted on


Satu pesan Kepemimpinan dari KH. Naspi Arsyad, Lc. pada Penutupan Rakerwil Hidayatullah Jawa Barat di Kampus Yayasan Ummul Quro Hidayatullah Karawang-sebagai kampus madya pendidikan- pada 7 Februari 2026 memang bukan sekadar penanda berakhirnya rangkaian agenda organisasi.

Namun penulis mencoba menangkap, pada momen ini biasanya pesan-pesan kepemimpinan tampak dan menemukan kedalaman maknanya. Dalam tausiyah penutupnya, KH. Naspi Arsyad, Lc. sebagai Ketua Umum DPP Hidayatullah dan pendamping dalam acara tersebut menyampaikan satu kalimat yang tampak sederhana namun sarat makna: kerja menyatukan hati adalah kerja langit, bukan kerja bumi. Sebuah pernyataan yang seolah mengingatkan bahwa tidak semua persoalan kepemimpinan dapat dituntaskan dengan pendekatan administratif dan struktural semata.

Dalam dunia organisasi, tak terkecuali organisasi pendidikan dan dakwah, kita sering menaruh harapan besar pada struktur. Ketika program tidak berjalan, solusi yang muncul biasanya adalah revisi struktur, penegasan tugas, atau penambahan aturan. Padahal, sebagaimana diisyaratkan dalam pesan tersebut, tidak sedikit persoalan struktural justru lebih efektif menyelesaikannya melalui pendekatan kultural.

Pendektan kulturan ini relevan dengan perhatian Peter Drucker yang mengingatkan bahwa manajemen berurusan dengan efektivitas sistem, sementara kepemimpinan berurusan dengan arah dan makna. Struktur boleh rapi, tetapi tanpa keterhubungan batin, ia mudah kehilangan daya hidup.

KH. Naspi Arsyad lebih menguatkan pesanya dengan menyinggung realitas yang sering terjadi -yang penulis menangkapnya- bahwa ketika seorang pemimpin menanyakan tugas kepada bawahannya dengan benar secara struktur, namun kerap alpa mempertimbangkan kondisi kultural dan personal saat tugas itu diberikan, ditanyakan. Pertanyaan itu sah secara jabatan, tetapi bisa menjadi tidak efektif ketika tidak disertai pemahaman tentang kesiapan, kebiasaan, dan situasi individu yang menerima tugas tersebut.

Baca :  Ketaatan yang Tumbuh dari Kesadaran

Edgar H. Schein menjelaskan bahwa budaya organisasi bekerja pada level asumsi dasar yang sering tak disadari, namun sangat menentukan perilaku. Maka tidak mengherankan jika perintah yang benar secara formal, kerap tidak berjalan mulus karena bertabrakan dengan realitas kultural yang hidup sehari-hari 24 jam tanpa henti. Di titik inilah tantangan kepemimpinan menjadi nyata -rawan konflik, terlebih pada organisasi yang menuntut kader-nya 24 jam siap “pakai” -tanpa nanti tanpa tapi.

Kepemimpinan tidak cukup berhenti pada pembagian tugas, memerintahnya, tetapi menuntut kemampuan pemimpin membaca manusia -kepada siapa dalam kondisi bagaimana ketika tugas itu datang. Lebih dalam Douglas McGregor melalui teori X dan Y menunjukkan bahwa cara pemimpin memandang manusia akan membentuk gaya kepemimpinannya. Ketika bawahan hanya diposisikan sebagai pelaksana tugas, maka kontrol menjadi alat utama. Namun ketika manusia dipahami sebagai pribadi dengan konteks, motivasi, dan keterbatasan, maka relasi, dialog, dan kepercayaan menjadi jembatan utama menuju kinerja yang berkelanjutan.

Menariknya lagi dari lanjutan pesan beliau tentang perlunya “anggaran kultural” menjadi penegasan penting dalam konteks ini. Bahwa organisasi terbiasa menganggarkan hal-hal yang tampak dan terukur: program, fasilitas, dan kegiatan. Kita bisa memahami angggara kulturan tidak semata bersifat keuangan dengan kehadirannya pos-pos anggaran sehubungan dengannya -seolah sebagai cost atau beban.

Jarang menyadari bahwa membangun kultur kerja yang sehat adalah sebuah investasi -waktu, perhatian, keteladanan, dan kesabaran. Secara taktis anggaran ini bisa bekerja bukan semata beban tapi nilai investasi membangun hubungan kepercayaan antara atasan dan bawahan, bahwa pemimpin tidak sekedar memerintah.

Stephen R. Covey, menegaskan bahwa kepercayaan adalah bentuk motivasi tertinggi manusia. Tanpa kepercayaan, struktur hanya melahirkan kepatuhan formal, bukan komitmen batin. Anggaran kultural hadir sejatinya adalah keberanian organisasi untuk merawat manusia dengan truts didalamnya, bukan sekadar mengelola pekerjaan. Maka kepercayaan membangun hubungan yang sehat sacara kultural adalah keniscayaan.

Baca :  Teladan Nabi Ibrahim dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia

Dalam perspektif Islam, pesan ini menemukan pijakan yang kokoh. Rasulullah ﷺ memimpin tidak hanya dengan perintah, tetapi dengan pemahaman mendalam terhadap kondisi para sahabat. Beliau menyesuaikan pendekatan sesuai kesiapan iman dan karakter, sehingga perintah tidak menjadi beban, melainkan panggilan kesadaran.

Kemudian Ibun Khaldun dalam Muqaddimah menegaskan bahwa keberlangsungan kepemimpinan sangat bergantung pada ‘ashabiyyah, ikatan sosial dan rasa kebersamaan. Tanpa ikatan ini, struktur akan kehilangan ruh, dan organisasi mudah rapuh dari dalam. Disini kerja menyatukan hati memainkan perannya sebagai kerja kultural yang sangat luas dimensinya namun satu muaranya keterhubungan hati.

Pada akhirnya, pesan kepemimpinan KH. Naspi Arsyad, Lc mengajak kita untuk menata ulang orientasi kepemimpinan. Menyatukan hati bukan berarti mengabaikan struktur, dan menata struktur bukan berarti menafikan relasi personality. Keduanya harus berjalan seiring.

Manajemen berbasis tugas dan kepemimpinan berbasis hubungan bukan dua kutub yang saling bertentangan, melainkan dua dimensi yang saling menguatkan. Kerja bumi menuntut keteraturan dan kejelasan, sementara kerja langit menuntut kebijaksanaan dan keikhlasan. Di antara keduanya, kualitas seorang pemimpin diuji: sejauh mana ia mampu menghadirkan struktur yang hidup dan kultur yang menggerakkan.wallahu’alam

Visited 5 times, 1 visit(s) today
Avatar photo
Semua memulai dari diri, maka kenali, perhatikan dan awasi namun jangan lupa terimalah dan sayangi ia apa adanya. Seorang Ambivert yang berangkat dari Introvert, Pemerhati Pendidikan dan Minat pada HR Management

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *