Deep Learning dan Kedalaman Ruhani dalam Pendidikan Islam

Posted on

Refleksi atas Paradigma Barat dan Kesadaran Tauhid dalam Belajar

Setiap kali dunia pendidikan modern memperkenalkan istilah baru seperti surface learning, strategic learning, lalu yang teranyar deep learning– seolah ada janji bahwa pendekatan kali ini akan menjadi solusi paling mutakhir.

Namun, pola kemunculan tersebut menyimpan tanya dan dugaan bahwa tak lama kemudian, akan muncul lagi teori lain yang diklaim lebih relevan dan kontekstual. Begitulah wajah pendidikan dalam paradigma Barat: dinamis, tetapi juga membawa pesan gelisah; penuh inovasi, tetapi sekaligus menandakan bahwa kebenaran tentang pendidikan belum pernah benar-benar ditemukan.

Di satu sisi, dinamika itu memang menunjukkan vitalitas intelektual -bahwa manusia Barat terus berusaha mencari cara terbaik untuk memahami proses belajar. Namun di sisi lain, kegelisahan epistemologis tersebut berakar pada satu hal mendasar pada adanya pandangan dunia (worldview) yang sekular yang menempatkan ilmu sebagai konstruksi manusia semata, terpisah dari sumber kebenaran yang transenden.

Dalam pandangan Barat -sebagai garis pemisah yang membedakan dengan pandangan Islam, belajar adalah aktivitas rasional dan empiris suatu proses mental untuk memahami dunia dan memecahkan persoalan hidup.

Dalam Islam, belajar lebih dari itu, ia adalah perjalanan ruhani menuju pengenalan terhadap Allah. Karena itu, Islam tidak memisahkan antara akal, hati, dan amal dalam proses pendidikan. Letak perbedaan mendasar dalam paradigma sekular, dimana kedalaman belajar diukur dari kemampuan berpikir kritis dan reflektif. Sedangkan dalam Islam, kedalaman belajar mencakup transformasi diri menuju kesadaran tauhid.

Sekularitas dan Keterbatasan Paradigma Barat

Pendekatan kurikulum yang pernah ada -dan akan terus mengada- dalam dunia Barat belum pernah mencapai titik final. Sejak zaman Comenius hingga Bloom, dan kini Biggs & Tang, orientasinya terus berubah mengikuti arus sosial dan ideologi zaman.

Baca :  Bagaimana Jika Kita Samina wa Tafakkarna Sebelum Samina wa Atho’na ?

Pada permukaannya, perubahan yang terjadi tersebut dari berbagai pendakatan toeri pendidikan tampak sebagai kemajuan; tetapi dalam tataran metafisika, perubahan tanpa arah transendental hanyalah pergerakan dalam lingkaran yang tak berujung.

Sekularitas menjadikan pendidikan kehilangan jangkar ontologis. Ia berputar di antara teori-teori tentang manusia tanpa pernah bertanya: untuk apa manusia belajar? Akibatnya, pendidikan menjadi proyek yang terus diperbaiki, tetapi tak pernah selesai. Deep learning pun akhirnya direduksi menjadi kemampuan analitis dan reflektif, namun kering dimensi spiritual.

Islam memandang hal ini dengan cara berbeda. Dalam Islam, asas segala pengetahuan telah final -yaitu tauhid. Ilmu bukanlah produk semata dari rasio, melainkan pancaran dari kebenaran ilahiah yang diungkap melalui wahyu dan realitas. Karena itu, setiap penemuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan bukanlah paradigma tandingan bagi Islam, melainkan jejak pembuktian terhadap kebenaran yang telah ditetapkan Allah.

Deep Learning dalam Cahaya Islam

Ketika Barat berbicara tentang deep learning, ia berbicara tentang “belajar mendalam” yang kalaulah ditelusuri berujug pada istilah filsafat “deep thinking“. Namun dalam Islam, yang dimaksud bukan sekadar deep thinking, melainkan learning deeply -belajar dengan seluruh keberadaan diri, menginsafi segala instrumen pengetahuan yang dimiliki.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Mulk:23 “Katakanlah: “Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur”.

Bersyukur pada ayat diatas, bahwa itu peringatan bagi manusia dengan instrumen tersebut untuk berpikir (afala ta‘qilun), merenung (afala yatadabbarun), dan mendorong kesungguhan beramal (yujahidun). Ketiganya membentuk siklus pembelajaran yang utuh:

  1. Mengetahui (ilmu) — memahami tanda-tanda Allah pada alam dan wahyu-Nya.
  2. Merenungi (tadabbur) — mengaitkan pengetahuan dengan kesadaran hati.
  3. Mengamalkan (jihad fi sabil al-‘ilm) — menerjemahkan ilmu menjadi kesungguhan amal yang menebar kemaslahatan.
Baca :  Refleksi dari Video hingga Tragedi: Ketika Peran Menagih Keahlian

Siklus ini terus berputar, menaikkan derajat pengetahuan dari sekadar informasi menjadi hikmah. Maka, deep learning dalam perspektif Islam bukanlah inovasi pedagogis baru, melainkan kesadaran kembali bahwa belajar sejatinya adalah ibadah.

Dalam kerangka ini, seorang guru bukan hanya instructor atau facilitator tetapi murabbi -pembimbing ruhani yang menanamkan makna, bukan sekadar metode. Sementara murid bukan sekadar penerima informasi, melainkan penempuh jalan ilmu yang berorientasi pada pengenalan diri dan Tuhannya.

Jejak Pembuktian, Bukan Pergantian

Setiap teori pendidikan yang lahir dari Barat bisa diambil manfaatnya sejauh menyentuh ranah material, metodologis, atau teknis. Namun pada tataran metafisika, umat Islam perlu berhati-hati agar tidak larut dalam relativisme ideologis. Islam tidak menolak teori modern, tetapi menempatkannya pada posisi “pelengkap”, bukan “penentu arah”.

Dengan kesadaran ini, umat Islam tidak lagi terjebak dalam dikotomi antara menerima atau menolak teori Barat, melainkan mampu menafsirkan dan mengislamkannya. Deep learning pun bisa dipahami bukan sebagai model belajar yang baru, tetapi sebagai konfirmasi atas kebenaran yang telah ditegaskan dalam Islam: bahwa belajar sejatinya menuntun manusia kepada makrifatullah.

Kedalaman belajar bukan hanya soal kecerdasan berpikir, tetapi juga kedalaman jiwa. Seorang ilmuwan sejati bukan yang menguasai banyak teori, tetapi yang mampu menundukkan pengetahuannya kepada kebenaran Ilahi.

Pendidikan Islam tidak sedang mencari paradigma baru, karena ia sudah memiliki fondasi epistemologis yang utuh. Yang kita perlukan adalah kesadaran kembali terhadap hakikat ilmu sebagai jalan menuju Allah, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir [35]:28).

Maka, deep learning dalam Islam bukan sekadar metode belajar, melainkan laku spiritual: menyelam ke kedalaman makna agar setiap ilmu yang kita pelajari tidak berhenti di kepala, tetapi berakar di hati, berbuah dalam amal, dan menuntun kita kembali kepada-Nya. Wallahu’alam

Visited 6 times, 1 visit(s) today
Baca :  Siklus MSDM: Perjalanan Kader Organisasi Islam
Avatar photo
Semua memulai dari diri, maka kenali, perhatikan dan awasi namun jangan lupa terimalah dan sayangi ia apa adanya. Seorang Ambivert yang berangkat dari Introvert, Pemerhati Pendidikan dan Minat pada HR Management

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *